4.20.2014

Di Balik Daun-Daun Yang Berserakan

Bookmark and Share

Dahulu, di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai berjualan, Ia pergi ke Masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan shalat Dzuhur.

Setelah membaca wirid dan doa sekadarnya, nenek tersebut keluar masjid, lalu membungkuk-bungkuk di halaman. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceraan. Selembar demi selembar dikaisnya, tidak satu lembar pun ia lewatkan.

Tentu saja perlu waktu lama untuk membersihkan halaman masjid dari dedaunan yang jatuh dari pohon dengan cara seperti itu. Padahal, jika tengah hari, sengatan matahari di Madura sungguh menyengat. Keringat pun mengucur dari tubuh yang kurus dan mulai rapuh itu.


Banyak pengunjung masjid yang merasa iba kepadanya. Hingga suatu hari, takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum si nenek datang. Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai menunaikan shalat, ketika hendak melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut.

Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan lalu menangis. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang pun menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. "Jika kalian kasihan kepadaku," kata nenek itu, "berikan aku kesempatan untuk membersihkannya."

Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan daun-daun yang berserakan seperti biasa. Seorang kiai yang terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan tua itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan daun-daun di halaman masjid.

Ia pun mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Pak Kiai yang mendengarkan rahasianya: kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup. Sekarang, ia sudah meninggal, dan kita bisa mendengarkan rahasia itu.

"Saya ini perempuan bodoh, Pak Kiai," tuturnya. "Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari kiamat tanpa syafaat Kanjeng Rasulullah.

Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu shalawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya telah membacakan shalawat kepadanya."

Begitulah, ketika seseorang mencintai Nabinya, ia akan mencari seribu satu cara agar bisa menyalurkan rasa cinta itu. Nenek renta ini bukanlah seorang ulama terkenal, ia hanyalah seorang penjual bunga cempaka.

Tidak banyak kata dalam kamus kehidupannya untuk mengungkapkan kerinduannya kepada Rasulullah. Namun, dengan kesederhanaan yang begitu jernih dan berbalut keikhlasan, ia telah mampu menginspirasi banyak orang untuk mempertanyakan sejauh mana kecintaannya terhadap Rasulullah SAW.

[+/-] Klik Selengkapnya

4.18.2014

Panjang Angan-Angan

Bookmark and Share

Ketika aku membuka lembaran-lembaran file pegawai yang telah pensiun, kutemukan catatan berikut ini:

Dahulu aku berangan-angan…
Andai aku menjadi seorang pegawai kantoran...
Dan benar saja, akhirnya akupun bekerja sebagai pegawai,
Sehingga akupun terobsesi untuk segera menikah.

Dahulu aku berangan-angan...
Kiranya aku dapat menikah...
Dan benar saja, akupun menikah,
akan tetapi hidup ini demikian sepi tanpa kehadiran anak.

Akupun berangan-angan...
kiranya aku dikaruniakan anak...
dan benar saja, akupun diberikan karunia anak-anak,
Akan tetapi, tidak berselang beberapa lama akhirnya aku jenuh dengan dinding-dinding apartemenku sendiri.

Akupun kembali berangan-angan...
Andai aku memiliki rumah pribadi...
Terdapat halaman dan tamannya...
Dan benar saja, setelah berusaha keras akupun memiliki rumah itu, akan tetapi, anak anak ku sudah pada dewasa.

Akupun kembali berangan-angan...
Duhai kiranya aku dapat menikahkan mereka...
Dan benar saja, akhirnya merekapun telah menikah,
Tapi aku jenuh dengan pekerjaanku dengan segala kesulitannya, semuanya terasa sangat melelahkanku.

Akupun kembali berangan-angan...
Andai aku segera pensiun agar aku dapat beristirahat...
Benar saja, akupun akhirnya pensiun,
Akan tetapi akupun tinggal seorang diri persis seperti kala aku baru lulus kuliah dahulu.

Akan tetapi ketika baru lulus kuliah dahulu,
Saat itu aku tengah menyongsong kehidupan,
sementara saat ini aku sedang menyongsong akhir kehidupan,
Namun meskipun demikian, aku masih saja memiliki setumpuk angan-angan.

Kini aku berangan-angan...
Untuk menghafalkan Al Qur’an...
Tapi... ingatanku telah mengkhianatiku (cepat lupa)

Aku juga berangan-angan...
Untuk berpuasa mendekatkan diri kepada Allah,
Tapi kesehatanku tidak lagi mendukungku.

Aku juga berangan-angan...
Untuk bangun shalat malam,
Tapi kakiku tak mampu lagi menahan beban tubuhku.

Sunggu benarlah Sabda Rasulullah Al-Musthafa,
“Pergunakanlah sebaik-baiknya 5 perkara sebelum datangnya 5 perkara:
1. Masa mudamu sebelum datang masa tuamu
2. Masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu
3. Masa kayamu sebelum datang masa miskinmu
4. Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu
5. Masa hidupmu sebelum datang kematianmu

Ya Allah! Bantulah kami untuk senantiasa mengingat-Mu, bersyukur pada-Mu dan melakukan ibadah sebaik-baiknya kepada-Mu.

Saudaraku...
Jika dalam aktivitas harianmu tidak terdapat:
Dua rakaat Shalat Duha,
Atau 1 hizb bacaan Qur’an
Atau shalat Witir di malam hari,
Atau ungkapan kalimat baik yang kau ucapkan,
Atau sedekah yang dapat memadamkan kemurkaan Allah,
Atau amalan rahasia yang tak diketahui melainkan Allah.

Maka masih adakah nikmat hidup tersisa untukmu?

==================================================

Diterjemahkan oleh Fadlan Akbar, Lc. dari artikel berbahasa Arab
Panjang Angan-Angan

[+/-] Klik Selengkapnya

4.16.2014

LOMBA TIUP MONYET

Bookmark and Share

Seekor monyet sedang bergelayutan di pucuk pohon kelapa. Dia tidak menyadari kalau ia sedang diintai oleh tiga angin besar. Angin Topan, Angin Tornado, Angin Bahorok.
Tiga angin itu rupanya sedang bertaruh siapa yang bisa paling cepat menjatuhkan si monyet dari pohon kelapa

Angin Topan berkata, "aku cuma perlu waktu 45 detik..."
Angin Tornado tidak mau kalah, "kalau aku cukup dg 30 detik..."
Angin Bahorok, dengan nada mengejek berkata, "kalau aku 15 detik, pasti jatuh tuh si monyet..."

Lalu dimulailah pertaruhan diantara mereka bertiga

Angin TOPAN yang pertama, dia tiup angin sekencang-kencangnya... Wuuss...
Merasa ada angin yg bertiup kencang, si monyet langsung berpegangan pada batang pohon kelapa dengan sekuatnya. Setelah berusaha meniupkan anginnya dengan keras, ternyata si monyet tetap tidak bergerak. Dan Angin Topan pun menyerah.

Giliran Angin TORNADO... Wuuusss... Wuuusss...
Ia juga meniupkan anginnya lebih keras, dengan sekencang-kencangnya. Namun si monyet tetap tidak terjatuh juga.

Terakhir, Angin BAHOROK... Lebih keras dan kencang... Wuuuss... wuuuss...wuuss...
Si monyet malah makin kuat berpegangannya. Dan tetap saja tidak jatuh

Ketiga angin itu akhirnya mengakui, kalau si monyet memang hebat...
Tangguh, kuat & daya tahannya luar biasa.

Tidak berapa lama, tiba-tiba datang Angin Sepoi - Sepoi...
Dia mengungkapkan keinginannya untuk ikut bertaruh.

Ternyata niat angin sepoi-sepoi hanya dijadikan bahan ejekan dari ketiga angin lainnya...
"Angin yg besar spt kami aja tdk bisa, apalagi yang kecil..."

Tanpa banyak bicara, angin SEPOI-SEPOI langsung meniup ubun-ubun si monyet... Wuuuuuiiiisss…
Enaaaaaak... Adeeeeem… Segeeeeer…

Mata si monyet merem melek...
Tidak lama si monyet mulai tertidur, dan tanpa disadari terlepaslah pegangannya...
Kemudian, jatuhlah si monyet dari pohon kelapa.

Sahabat,

Boleh jadi, ketika kita,
Diuji dengan KESUSAHAN…
Dicoba dengan PENDERITAAN…
Didera MALAPETAKA...
Kita kuat bahkan kuat dari sebelumnya.

Tapi ketika kita diuji dengan...
KENIKMATAN...
KESENANGAN...
KELIMPAHAN...
PUJIAN...
Saat itulah kita "terjatuh"

So, jangan sampai kita terlena,
Tetap rendah hati dan mawas diri,
Ingatlah hidup kita di dunia hanya sementara,

Ingatlah akherat kita, karena itulah masa depan kita yang sesungguhnya.
Semua akan diminta pertanggung jawabannya.

Inipun ditujukan pula untuk diri sendiri, semoga menjadi pribadi yang lebih baik

Mari kita jadikan DUNIA KITA sebagai BEKAL. Jangan jadikan BEBAN...

=====================================================

Sumber: Salah satu grup ODOJ di Whatsapp

[+/-] Klik Selengkapnya

4.15.2014

Hidup Adalah Belajar

Bookmark and Share

Ketika kita berpikir negatif pada seseorang,
Tanpa sadar, kita telah menghakimi orang itu.

Lebih mudah mana:
Berusaha menyingkirkan semua kerikil tajam di setiap jalanan,
atau memakai sepatu agar kaki kita tidak terluka?

Lebih mungkin mana:
Berusaha mensteril semua tempat agar tak ada kuman,
atau memperkuat daya tahan tubuh kita sendiri?

Lebih mudah mana:
Berusaha mencegah setiap mulut agar tak bicara sembarangan,
atau menjaga hati kita sendiri agar tak mudah tersinggung?

Lebih penting mana:
Berusaha menguasai orang lain,
atau belajar menguasai diri sendiri?

Yang penting bukan bagaimana orang harus baik pada kita, melainkan bagaimana kita berusaha baik pada orang lain. Bukan orang lain yang membuat kita bahagia, melainkan sikap kita sendirilah yang menentukan, kita bahagia atau tidak.

Setiap waktu yang telah kita habiskan dalam hidup ini, tidak akan terulang kembali. Namun ada satu hal yang masih tetap bisa kita lakukan, yaitu BELAJAR... dari masa lalu untuk hari esok yang lebih baik.

Hidup adalah PROSES, Hidup adalah BELAJAR,

Belajar Bersyukur Meskipun Tak Cukup,
Belajar Ikhlas Meskipun Tak Rela,
Belajar Taat Meskipun Berat,
Belajar Memahami Meskipun Tak Sehati,
Belajar Setia Meskipun Tergoda,
Belajar Memberi Meskipun Tak Seberapa,
Belajar Mengasihi Meskipun Disakiti,
Belajar Tenang Meskipun Gelisah,
Belajar dan Terus Belajar...
Belajar sampai pada akhirnya Allah yang menyempurnakan.. Aamiin..

Semangat Pagi!! Great Mroning!!

=====================================================

Sumber: Kiriman dari Sahabat

[+/-] Klik Selengkapnya

4.13.2014

KEBAHAGIAAN ORANG YANG BERSYUKUR

Bookmark and Share

Menjadi orang yang paling bersyukur....

Jika KEKAYAAN bisa membuat orang BAHAGIA, tentunya ADOLT MERCKLE, orang TERKAYA dari JERMAN, tidak akan menabrakkan badannya ke KERETA API...

Jika KETENARAN bisa membuat orang BAHAGIA, tentunya MICHAEL JACKSON, penyanyi TERKENAL di USA, tidak akan meminum OBAT TIDUR hingga OVERDOSIS...

Jika KEKUASAAN bisa membuat orang BAHAGIA, tentunya G. VARGAS, Presiden BRAZIL, tidak akan menembak JANTUNGNYA...

Jika KECANTIKAN bisa membuat orang BAHAGIA, tentunya MARILYN MONROE, artis CANTIK dari USA, tidak akan meminum ALKOHOL dan OBAT DEPRESI hingga OVERDOSIS...

Jika KESEHATAN bisa membuat orang BAHAGIA, tentunya THIERRY COSTA, Dokter Terkenal dari PERANCIS, tidak akan membunuh dirinya akibat acara di TELEVISI..

Ternyata, BAHAGIA atau tidaknya hidup seseorang itu, BUKAN ditentukan oleh seberapa KAYANYA, TENARNYA, CANTIKNYA, KUASANYA, SEHATNYA atau SESUKSES apapun hidupnya.


Tapi yang bisa membuat seseorang itu BAHAGIA adalah DIRINYA SENDIRI... mampukah ia mau MENSYUKURI semua yang sudah dimilikinya dalam segala hal.

"Kalau KEBAHAGIAAN bisa DIBELI, pasti orang-orang kaya akan MEMBELI KEBAHAGIAAN itu. Dan kita akan SULIT mendapatkan KEBAHAGIAAN karena sudah DIBORONG oleh mereka."

"Kalau KEBAHAGIAAN itu ada di suatu TEMPAT, pasti belahan lain di bumi ini akan KOSONG karena semua orang akan kesana berkumpul dimana KEBAHAGIAAN itu berada."

Untungnya KEBAHAGIAAN itu berada DI DALAM HATI setiap manusia.
Jadi kita tidak perlu MEMBELI atau pergi MENCARI KEBAHAGIAAN itu.

"Yang kita perlukan adalah HATI yang BERSIH dan IKHLAS serta PIKIRAN yang JERNIH, maka kita bisa menciptakan rasa BAHAGIA itu kapanpun, dimanapun dan dengan kondisi apapun."

KEBAHAGiAAN itu hanya dimiliki oleh "Orang-orang yang dapat BERSYUKUR".

"JIKA KAMU TIDAK MEMILIKI APA YANG KAMU SUKAI, MAKA SUKAILAH APA YANG KAMU MILIKI SAAT INI"

BERSYUKUR adalah suatu kemampuan yang bisa DIPELAJARI oleh siapapun.

bukan BAHAGIA yang membuat kita bersyukur, namun dengan banyak BERSYUKUR kita akan merasa bahagia.

[+/-] Klik Selengkapnya

Design by Chandra Nugraha.
Copyleft®2010 by ube17 || supported by andra-ulatbulu